Mengapa orang gila dicap sebagai orang yang tak normal?
Apakah jihad dengan cara membunuh orang-orang tak berdosa adalah benar?
Apakah salah bila kita tak mengikuti norma-norma masyarakat yang kita anggap tak sesuai?
Tentu saja orang gila itu tidak normal, atau jihad itu benar, dan orang yang menentang norma adalah seorang penjahat. Namun, pernahkah kita pikirkan mengapa demikian? Seolah semua jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tadi sudah terpatok dan harus demikian, dengan lancar kita menyimpulkan tanpa mengetahui apa yang kita simpulkan.
Mari kita renungkan,
Kekuatan manusia untuk mengeksplorasi rahasia-rahasia yang terdapat di alam membuat manusia lebih unggul dari makhluk lain di zamannya–tentunya sebelum ada makhluk lain yang menggantikan manusia sebagai khalifah. Kemampuan ini yang menjadikan manusia begitu kompleksnya, karena akal pikiran membuat semua yang sederhana menjadi detail yang saling menghubungkan.
Kekompleksan manusia tidak hanya terbatas pada cara mengeksploitasi rahasia alam, namun kekompleksan ini lebih disebabkan pada cara pandang setiap manusia yang berbeda pada suatu masalah yang biasa kita sebut subjektivitas manusia. Kesubjektifan manusia terkadang mengalahkan segala prestasi objektivitas manusia mengenai pengungkapan hukum-hukum alam.
Penafsiran pandangan manusia terhadap suatu objek sebenarnya faktor pembatas yang paling besar yang mengekang pola hidup manusia. Terkadang manusia terlalu subjektif dalam menyimpulkan masalah hingga pada akhirnya asumsi terbanyaklah yang dijadikan patokan sebagai normal, dan mereka yang berbeda tersisihkan dari normal–yang sebenarnya dibuat oleh manusia juga.
Adanya sifat subjektif pada manusia menimbulkan banyak pandangan yang bertentangan satu sama lain, yang akhirnya masalah tidak diselesaikan secara objektif namun rasa aku benar yang menguasai–jelas ini subjektif.
Jika demikian maka tak ada yang pasti benar dan pasti salah di dunia ini–terlebih apa yang dibuat manusia. Bahkan Norma dan hukum–sebagai aturan hidup yang selalu dijadikan patokan berperilaku– yang dibuat oleh manusia belum tentu benar dengan nilai kehidupan sesungguhnya, hukum dapat dibuat sesuka hati oleh orang yang memiliki kekuasaan dan keahlian dalam memengaruhi. Hukum yang menjadi nilai dasar berperilaku yang membagi antara yang benar dan yang salah menjadi sangatlah subjektif. Artinya hukum hanyalah sebagai ikon saja, manusialah yang memutuskan–bukankah hukum dibuat untuk dilanggar.
Maka setiap orang bisa membentuk hukumnya sendiri, dan setiap orang membagi yang benar dan yang salah sesuai dengan pandangannya sendiri. Tentunya akan timbul banyak ketidaksesuaian antara satu hukum dengan yang lain. Dan kebenaran menjadi semakin abstrak–tak lebih dari sekedar angin, terasa tapi tak tampak wujudnya–hingga kebenaran seolah hanya dapat ditemukan dalam hati nurani saja.
“Bila dunia beserta isinya diciptakan begitu sempurna tentu semua hal akan tampak sangat sederhana dan serba indah”.–anonim–
Adanya pembagian dari yang benar dan salah menjadikan dunia kehilangan kesederhanaan dan keindahannya, dan manusialah yang menciptakan pembagian itu sendiri. Namun, dapat kita bayangkan bila alam semesta ini begitu seragam, manusia manusia kehilangan subjektifitasnya, tak ada yang kita sebut benar dan salah, apapun yang dilakukan adalah benar dan tak ada yang menyangkalnya, tentu manusia kehilangan arti hidupnya–sejarah mengatakan semua kejadian di dunia adalah mengenai pergelutan antara yang “benar” dan yang salah”.
“Kemampuan penilaian manusia kepada masalah dan cara menyelesaikannya yang berbeda untuk tiap individu menjadikan asumsi mayoritas menjadi satu-satunya patokan dalam membagi hal yang normal dengan hal yang abnormal. Yang benar dengan yang salah. Artinya, semakin banyak manusia yang melakukan satu kegiatan maka hal tersebut dianggap normal, dan orang yang menyimpang langsung di cap sebagai manusia abnormal.”
Sesungguhnya segala keputusan ada ditangan kita mengenai apa yang harus kita ikuti, hati nuranilah dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, tergantung sikap kita bagaimana menyikapinya.
Norma yang telah tercipta di masyarakat belumlah tentu benar atau sesuai dengan hati nurani diri. Namun, untuk menentang sesuatu yang sudah mengakar di masyarakat tidaklah mudah, seperti ikan salmon yang menentang arus sungai demi melanjutkan keturunan jenisnya dan kemudian mati setelah bertelur.
“Orang-orang yang rasional menyesuaikan dirinya dengan kondisi sekeliling. Orang yang tidak rasional menyesuaikan kondisi sekeliling dengan dirinya. Semua kemajuan bergantung pada orang yang tidak rasional”.–George Bernard Shaw–
Perubahan selalu tercipta oleh orang-orang yang melawan arus. Coppernicus menentang gereja dengan geosentrisnya–bumi sebagai pusat tata surya– yang membuatnya ditentang oleh kaum gereja dan penganutnya. Hal ini membuat dia terkucil dari masyarakat hanya dikarenakan dia melawan arus dan danggap orang yang tidak normal. Ia mengemukakan teori heliosentris–matahari sebagai pusat tata surya dengan planet termasuk bumi mengelilingi matahari sebagai pusat–yang walau semasa hidupnya ia dikucilkan ia tetap memegang teguh apa yang ia anggap benar hingga akhirnya teorinya dilanjutkan oleh galileo dan dibuktikan dengan penemuan teleskop untuk pembuktian teori heliosentris.
Pihak gereja yang merasa pihaknya adalah pihak yang selalu benar tanpa sadar mengekang segala bentuk perubahan dan kemajuan. Dan sesuatu yang dianggap normal sebelumnya belum tentu dianggap normal untuk masa yang akan datang.
“jangan terlalu jauh berada di depan sampai orang menganggap anda bukan bagian dari mereka.”
–John Naisbitt–
Intinya setiap orang memiliki penilaian dan pemikiran masing-masing, dan pemikiran mayoritaslah yang sebenarnya menjadi penyeimbang segala bentuk penentangan. Pepatah jepang mengatakan “paku yang menonjol akan dipalu”, dalam membuat perubahan kita menjadi berbeda dengan sekitar kita dan pasti akan timbul kecemburuan dan pengucilan dari masyarakat. Saat membuat perubahan janganlah terlalu jauh berada di depan mereka, karena mereka tidak akan mengerti apa yang kita lakukan bila kita terlalu jauh berada di depan. Menyatulah dan berpikirlah jangan hanya dari satu sudut pandang agar kita tidak kehilangan arti kebenaran dan keselarasan hidup.
Orang secara budaya dikondisikan untuk benar. Orang tua selalu benar. Guru selalu benar. Bos selalu benar. Siapa yang benar menentukan apa yang benar. Pasangan bertengkar soal masalah-masalah yang intinya justru terlupakan akibat keduanya berebut menjadi pihak yang benar.
Partai-partai politik berpendirian harus benar. Seberapa sering partai politik menerima sikap pihak lain? Bayangkan jika semua energi yang digunakan untuk membuktikan pihak lain salah–dan kita yang benar–disalurkan untuk memikirkan apa yang terbaik bagi apa pun. Yang lebih parah lagi, keharusan menjadi benar merupakan sebuah rintangan dalam pembelajaran dan pemahaman. Keharusan menjadi benar menghambat pertumbuhan manusia, karena pertumbuhan tidak akan terjadi tanpa mengubah, mengoreksi, dan mempertanyakan diri sendiri.
Jika kita harus benar, kita menempatkan diri sendiri dalam benteng tertutup. Tapi begitu kita merasakan hebatnya tidak harus benar, kita akan merasa seperti berjalan melintasi padang terbuka, dimana cakrawala terbentang luas dan kaki kita bebas melangkah kemana saja.
Didedikasikan untuk orang-orang yang
merasa dirinya selalu benar
Bandung, … April 2008
Gian Wilda Satria
Komentar Terakhir