Aku Hanya Ingin Ia Tahu…

28 11 2008

tadi aku sudah bicara padanya.
tantang semua kenanganku, tentang dirinya.
saat ini emosiku sudah reda, dan lagi-lagi pada saat begini aku mulai menyesali semuanya, sikapku padanya.
aku hanya ingin ia tahu, bahwa aku selalu ada untuknya. dan aku ingin sekali ia tahu bahwa aku ingin menjadi orang yang sangat ia percaya untuk menjaga senyumnya hingga ia tak lagi ragu untuk membagi semua bebannya padaku. karena cemasnya yang tak aku ketahui, adalah hukuman atas kelemahanku yang tak dapat membuatnya seutuhnya mempercayaiku, atau mungkin lebih sederhana, ia takut untuk membagi beban denganku.
apa pun yang ia pikirkan, aku hanya ingin ia tahu aku rindu saat kita saling bercerita panjang menghabiskan waktu. bercerita semuanya.





Aku Ingin Tidur!

28 11 2008

hari ini, malam ini tak seperti yang biasa aku rasakan. sejak beberapa hari kemarin aku sangat sulit untuk tidur, tapi hari ini berbeda. beban begitu menanggung di pundakku, dan suatu perasaan dari dalam hatiku berkata, apakah ini titik balikku?
ku coba untuk memejamkan mata, mencoba untuk tidur. 2 butir obat flu aku minum sekaligus karena mataku tak dapat konsisten terpejam. malam ini aku memikirkan dia yang saat ini entah sedang tertidur pulas atau merasakan seperti apa yang terjadi padaku sekarang. kecemasan ini. kangen ini.
saat ini tak kutemukan ujung pangkal dari apa yang aku pikirkan. entah mengapa, semuanya mengalir begitu saja. tapi tak dapat kubilang semuanya irasionil dan tak berdasar, aku yakin semua ini tumbuh dari sesuatu yang kecil dan sekaranglah saatnya semuanya meluap.
jujur aku sering cemas padanya, semakin ku kenal dia semakin cemas yang aku rasakan. sering aku menilainya, jauh dari aku kenal dia dulu. aku tahu tak seharusnya aku demikian, dan memang sangat menyakitkan bila kita menilai dari apa yang sebenarnya tak ingin kita nilai.
akankah aku berhenti menilainya suatu saat? aku tak tahu, yang pasti sekarang aku ingin tidur.

Bandung, 27 November 2008





Menanti Sebuah Jawaban

8 09 2008

aku tak bisa luluhkan hatimu
dan aku tak bisa menyentuh jiwamu
Seiring jejak kakiku bergetar
Aku telah terpagut oleh cintamu
Menelusup hariku dengan harapan
namun kau masih terdiam membisu

Sepenuhnya aku ingin memelukmu
mendekap penuh harapan
Tuk mencintaimu
Setulusnya aku akan terus menunggu
menanti sebuah jawaban
Tuk memilikimu

Betapa pilunya rindu menusuk jiwaku
Semoga kau tahu isi hatiku
Dan seiring waktu yang terus berputar
Aku masih terhanyut dalam mimpiku

Aku tak bisa luluhkan hatimu
Dan aku tak bisa menyentuh jiwamu

Menanti sebuah jawaban

Lyric by Padi





Kosong

7 09 2008

Sunday, August 31, 2008

1:34 PM

Kosong

Dunia tertawa

Hariku berat, tak dapat kuraih talinya

Menggantung

Kutekan huruf tanpa urutan

Tak jelas

Mencoba mengisi kekosongan

Sepertinya aku bosan





Diproteksi: Diskon

7 09 2008

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:






suram

7 09 2008

Sunday, August 03, 2008

10:21 PM

Angin bersahaja memeluk diriku

Menyelimutiku, pelan-pelan menusukku

Matahari menyala menuntun langkahku

menghangatkanku, pelan-pelan membakarku

Penginderaanku terganggu

Hingga dapat kucium harumnya mawar dari seonggok bangkai

Bongkar lagi keheningan ini hingga porak poranda

Aneh, sepertinya ia tak betah terlipat rapi di pertapaannya

Ambil saja hatiku sekalian

Biar ku kembali dalam kehampaan

atau

Matikan saja listrik yang mengalir di tubuhku

Agar aku kembali menjadi manikin disudut gudang terkoyak

Bandung, 3 Agustus 2008

Gian Wilda Satria

I’m in Blue





Kehangatan di Musim Dingin

7 09 2008

Friday, August 29, 2008

7:54 PM

Sepasang kutilang menyusun sarang di pohon oak yang rindang

Setiap hari mereka berkicau bersama, menyenandungkan harmoni pada alam

Seakan ingin mengatakan aku berbahagia saat ini

Mereka berjumpa saat akhir musim dingin, dimana es dan hati mulai mencairkan aroma kebahagiaan musim semi

Hangatnya matahari mulai terasa menyelimuti kegalauan masa lalu, masa yang membekukan jiwa

Awan tak lagi bergumul menutupinya, secercah harapan pun terbuka

Bentang langit nan cerah mengalunkan bisikan yang tak mengelakkan mereka mengarungi keindahan akan kebebasan

Air sungai tampak bersahaja mengalirkan sari-sari kehidupan

Dan hamparan rumput pun bergoyang seirama dengan ketukan irama hati kebahagiaan

Kebersamaan telah terjalin begitu kuat antara mereka, senandung pun semakin riang menggema

Namun, musim dingin tak terelakkan

Roda perputaran alam yang tak ubahnya dengan roda irama hati, mengontrol segala keterbatasan

Sang kekasih pergi, mencari bekal untuk segala keterbatasan yang akan menanti di musim dingin

Bekal yang ia sendiri tak tahu, entah makanan, kekuatan hati, keikhlasan, atau bahkan tidak sama sekali

Yang pasti ia pergi untuk kembali

Musim dingin pun tiba, badai tak kunjung reda, menutup bunga daffodile dan hamparan rumput yang kemarin masih menyuarakan harmoni kebahagiaan

Ia masih terduduk di sarangnya yang penuh akan kenangan, hangat dan mesra

Masih dapat ia rasakan kekasihnya, memeluknya, dan menidurkannya dengan senandung rasa sayang walau tak nyata kehadirannya

Musim dingin ini menjadi sangat berat, hatinya mulai beku,

Namun secercah kehangatan tersimpan di lubuk hatinya saat ia menyusun kembali segala memori

Merangkaikannya dan mengikatnya menjadi bonquet kenangan

Mencoba berdiri tegak dan percaya bahwa kekasihnya akan kembali untuknya

Dibalik badai dan awan itu ia yakin matahari tetap bersinar

Menanti kembalinya musim semi untuk menebarkan kembali hangat pijarnya

Semua akan menjadi lebih baik

Dan ia pun tersenyum….

Bandung 31 Agustus 2008

Gian Wilda Satria

I’m in Blue





EMOSI

7 09 2008

Tuesday, May 13, 2008

8:15 AM

Emosi datang dan pergi

Logika pergi tak kembali

Masalah terus datang tanpa kompromi

Menyerang pikiranku dengan logika

Menyerang karakterku dengan perasaan

Menyerang secara bersamaan

Kaku

Sering aku terdiam disudut ruangan tanpa jendela

Saat semua emosi meraja yang kuingin hanya sendiri

Biarkan aku bicara pada emosiku

Tenang dan ironis

Hingga logikaku kembali

Dan semua akan menjadi lebih baik lagi

Setidaknya aku pikir demikian

Karena logika tak menyakiti siapapun kecuali aku





Aku Biru

30 07 2008

Friday, March 21, 2008

7:25 AM

Betapa kau tak akan mempercayai….

Ya kau tak kan percaya.

Tak kurasakan kau percaya pada ku, ku tahu dari mimik wajah, bola mata dan gerak bibirmu.

Sahabat, ku tahu polah engkau…

Walaupun kau sempat merasakannya sendiri dengan kepala dan hatimu yang kau letakkan dikepala pula

Kau tak kan pernah percaya bahwa semudah ini aku telah kembali pada jalanku. Jalan biruku.

Ku tahu engkau kawan, kau memendam rasa iba padaku. Tak perlulah kau demikian, walau rasa ibamu sedikit menghiburku. Tapi aku lelaki kawan, tak gentar hatiku akan seorang wanita.

Ya wanita. Wanita. Wanita. Wanita. Wanita

Baiklah baiklah aku tak kan menyangkal lagi, aku lemah dan lelah karenanya, wanita.

Namun apa kau percaya kawan? Ya ku tahu kau tak kan percaya. Hilangkanlah ibamu barang sejenak saat aku bercerita padamu, hilangkanlah ibamu agar leluasanya aku berkabar.

Walau ibamu, ya ibamu, iba-mu kau tak merubah masa lalu kawan,biarlah aku berkabar agar kau percayai.

Jalan biruku telah kembali. Percayailah!





Harmony

30 07 2008

Wednesday, April 02, 2008

8:13 AM

Pernahkah kau memandangi langit luas di cerah tak berawan?

Langit yang tak pernah nampak suatu ujung seakan tak berbatas

Langit yang terus menggantung tanpa tiang penyangga seakan melayang bebas

Tanpa beban tanpa batasan

Pernahkah kau perhatikan gunung yang menjulang?
Setinggi tinggi yang ia gapai, tanpa pedulikan anak-anak yang melambai kegirangan

Berharap setinggi tinggi gunung mereka capai.

Pernahkah kau nantikan seorang penyair?

Yang menyepi berharap mengerti isi dunia, terbebas dari belenggu jiwa

Mengekang dan terus mengekang diri menanti cahaya menerangi jiwa

Akankah semua begitu harmoni,

Saat kesenyapan dan keselarasan menyelimuti

Tiada lagi perdebatan mengenai kebenaran

Semua tampak begitu seragam

Dan tiada lagi warna