Diproteksi: message

11 09 2008

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:






Diproteksi: pelangi samar

11 09 2008

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:






Diproteksi: saat kau sakit

8 09 2008

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:






Diproteksi: jalanan sunyi

8 09 2008

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:






Menanti Sebuah Jawaban

8 09 2008

aku tak bisa luluhkan hatimu
dan aku tak bisa menyentuh jiwamu
Seiring jejak kakiku bergetar
Aku telah terpagut oleh cintamu
Menelusup hariku dengan harapan
namun kau masih terdiam membisu

Sepenuhnya aku ingin memelukmu
mendekap penuh harapan
Tuk mencintaimu
Setulusnya aku akan terus menunggu
menanti sebuah jawaban
Tuk memilikimu

Betapa pilunya rindu menusuk jiwaku
Semoga kau tahu isi hatiku
Dan seiring waktu yang terus berputar
Aku masih terhanyut dalam mimpiku

Aku tak bisa luluhkan hatimu
Dan aku tak bisa menyentuh jiwamu

Menanti sebuah jawaban

Lyric by Padi





Diproteksi: koridor

7 09 2008

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:






Kosong

7 09 2008

Sunday, August 31, 2008

1:34 PM

Kosong

Dunia tertawa

Hariku berat, tak dapat kuraih talinya

Menggantung

Kutekan huruf tanpa urutan

Tak jelas

Mencoba mengisi kekosongan

Sepertinya aku bosan





Diproteksi: Diskon

7 09 2008

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:






suram

7 09 2008

Sunday, August 03, 2008

10:21 PM

Angin bersahaja memeluk diriku

Menyelimutiku, pelan-pelan menusukku

Matahari menyala menuntun langkahku

menghangatkanku, pelan-pelan membakarku

Penginderaanku terganggu

Hingga dapat kucium harumnya mawar dari seonggok bangkai

Bongkar lagi keheningan ini hingga porak poranda

Aneh, sepertinya ia tak betah terlipat rapi di pertapaannya

Ambil saja hatiku sekalian

Biar ku kembali dalam kehampaan

atau

Matikan saja listrik yang mengalir di tubuhku

Agar aku kembali menjadi manikin disudut gudang terkoyak

Bandung, 3 Agustus 2008

Gian Wilda Satria

I’m in Blue





Kehangatan di Musim Dingin

7 09 2008

Friday, August 29, 2008

7:54 PM

Sepasang kutilang menyusun sarang di pohon oak yang rindang

Setiap hari mereka berkicau bersama, menyenandungkan harmoni pada alam

Seakan ingin mengatakan aku berbahagia saat ini

Mereka berjumpa saat akhir musim dingin, dimana es dan hati mulai mencairkan aroma kebahagiaan musim semi

Hangatnya matahari mulai terasa menyelimuti kegalauan masa lalu, masa yang membekukan jiwa

Awan tak lagi bergumul menutupinya, secercah harapan pun terbuka

Bentang langit nan cerah mengalunkan bisikan yang tak mengelakkan mereka mengarungi keindahan akan kebebasan

Air sungai tampak bersahaja mengalirkan sari-sari kehidupan

Dan hamparan rumput pun bergoyang seirama dengan ketukan irama hati kebahagiaan

Kebersamaan telah terjalin begitu kuat antara mereka, senandung pun semakin riang menggema

Namun, musim dingin tak terelakkan

Roda perputaran alam yang tak ubahnya dengan roda irama hati, mengontrol segala keterbatasan

Sang kekasih pergi, mencari bekal untuk segala keterbatasan yang akan menanti di musim dingin

Bekal yang ia sendiri tak tahu, entah makanan, kekuatan hati, keikhlasan, atau bahkan tidak sama sekali

Yang pasti ia pergi untuk kembali

Musim dingin pun tiba, badai tak kunjung reda, menutup bunga daffodile dan hamparan rumput yang kemarin masih menyuarakan harmoni kebahagiaan

Ia masih terduduk di sarangnya yang penuh akan kenangan, hangat dan mesra

Masih dapat ia rasakan kekasihnya, memeluknya, dan menidurkannya dengan senandung rasa sayang walau tak nyata kehadirannya

Musim dingin ini menjadi sangat berat, hatinya mulai beku,

Namun secercah kehangatan tersimpan di lubuk hatinya saat ia menyusun kembali segala memori

Merangkaikannya dan mengikatnya menjadi bonquet kenangan

Mencoba berdiri tegak dan percaya bahwa kekasihnya akan kembali untuknya

Dibalik badai dan awan itu ia yakin matahari tetap bersinar

Menanti kembalinya musim semi untuk menebarkan kembali hangat pijarnya

Semua akan menjadi lebih baik

Dan ia pun tersenyum….

Bandung 31 Agustus 2008

Gian Wilda Satria

I’m in Blue