Aku Biru

30 07 2008

Friday, March 21, 2008

7:25 AM

Betapa kau tak akan mempercayai….

Ya kau tak kan percaya.

Tak kurasakan kau percaya pada ku, ku tahu dari mimik wajah, bola mata dan gerak bibirmu.

Sahabat, ku tahu polah engkau…

Walaupun kau sempat merasakannya sendiri dengan kepala dan hatimu yang kau letakkan dikepala pula

Kau tak kan pernah percaya bahwa semudah ini aku telah kembali pada jalanku. Jalan biruku.

Ku tahu engkau kawan, kau memendam rasa iba padaku. Tak perlulah kau demikian, walau rasa ibamu sedikit menghiburku. Tapi aku lelaki kawan, tak gentar hatiku akan seorang wanita.

Ya wanita. Wanita. Wanita. Wanita. Wanita

Baiklah baiklah aku tak kan menyangkal lagi, aku lemah dan lelah karenanya, wanita.

Namun apa kau percaya kawan? Ya ku tahu kau tak kan percaya. Hilangkanlah ibamu barang sejenak saat aku bercerita padamu, hilangkanlah ibamu agar leluasanya aku berkabar.

Walau ibamu, ya ibamu, iba-mu kau tak merubah masa lalu kawan,biarlah aku berkabar agar kau percayai.

Jalan biruku telah kembali. Percayailah!





Diproteksi: D’Risols Senyap

30 07 2008

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:






Diproteksi: Akankah Epilog?

30 07 2008

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:






Diproteksi: Ungkapan Saat Kau Terlelap

30 07 2008

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:






Diproteksi: 24 Mei 2008;

30 07 2008

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:






Harmony

30 07 2008

Wednesday, April 02, 2008

8:13 AM

Pernahkah kau memandangi langit luas di cerah tak berawan?

Langit yang tak pernah nampak suatu ujung seakan tak berbatas

Langit yang terus menggantung tanpa tiang penyangga seakan melayang bebas

Tanpa beban tanpa batasan

Pernahkah kau perhatikan gunung yang menjulang?
Setinggi tinggi yang ia gapai, tanpa pedulikan anak-anak yang melambai kegirangan

Berharap setinggi tinggi gunung mereka capai.

Pernahkah kau nantikan seorang penyair?

Yang menyepi berharap mengerti isi dunia, terbebas dari belenggu jiwa

Mengekang dan terus mengekang diri menanti cahaya menerangi jiwa

Akankah semua begitu harmoni,

Saat kesenyapan dan keselarasan menyelimuti

Tiada lagi perdebatan mengenai kebenaran

Semua tampak begitu seragam

Dan tiada lagi warna





Relativitas Pola Pikir

30 07 2008

Wednesday, April 02, 2008

7:54 AM

Mengapa orang gila dicap sebagai orang yang tak normal?

Apakah jihad dengan cara membunuh orang-orang tak berdosa adalah benar?

Apakah salah bila kita tak mengikuti norma-norma masyarakat yang kita anggap tak sesuai?

Tentu saja orang gila itu tidak normal, atau jihad itu benar, dan orang yang menentang norma adalah seorang penjahat. Namun, pernahkah kita pikirkan mengapa demikian? Seolah semua jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tadi sudah terpatok dan harus demikian, dengan lancar kita menyimpulkan tanpa mengetahui apa yang kita simpulkan.

Mari kita renungkan,

Kekuatan manusia untuk mengeksplorasi rahasia-rahasia yang terdapat di alam membuat manusia lebih unggul dari makhluk lain di zamannya–tentunya sebelum ada makhluk lain yang menggantikan manusia sebagai khalifah. Kemampuan ini yang menjadikan manusia begitu kompleksnya, karena akal pikiran membuat semua yang sederhana menjadi detail yang saling menghubungkan.

Kekompleksan manusia tidak hanya terbatas pada cara mengeksploitasi rahasia alam, namun kekompleksan ini lebih disebabkan pada cara pandang setiap manusia yang berbeda pada suatu masalah yang biasa kita sebut subjektivitas manusia. Kesubjektifan manusia terkadang mengalahkan segala prestasi objektivitas manusia mengenai pengungkapan hukum-hukum alam.

Penafsiran pandangan manusia terhadap suatu objek sebenarnya faktor pembatas yang paling besar yang mengekang pola hidup manusia. Terkadang manusia terlalu subjektif dalam menyimpulkan masalah hingga pada akhirnya asumsi terbanyaklah yang dijadikan patokan sebagai normal, dan mereka yang berbeda tersisihkan dari normal–yang sebenarnya dibuat oleh manusia juga.

Adanya sifat subjektif pada manusia menimbulkan banyak pandangan yang bertentangan satu sama lain, yang akhirnya masalah tidak diselesaikan secara objektif namun rasa aku benar yang menguasai–jelas ini subjektif.

Jika demikian maka tak ada yang pasti benar dan pasti salah di dunia ini–terlebih apa yang dibuat manusia. Bahkan Norma dan hukum–sebagai aturan hidup yang selalu dijadikan patokan berperilaku– yang dibuat oleh manusia belum tentu benar dengan nilai kehidupan sesungguhnya, hukum dapat dibuat sesuka hati oleh orang yang memiliki kekuasaan dan keahlian dalam memengaruhi. Hukum yang menjadi nilai dasar berperilaku yang membagi antara yang benar dan yang salah menjadi sangatlah subjektif. Artinya hukum hanyalah sebagai ikon saja, manusialah yang memutuskan–bukankah hukum dibuat untuk dilanggar.

Maka setiap orang bisa membentuk hukumnya sendiri, dan setiap orang membagi yang benar dan yang salah sesuai dengan pandangannya sendiri. Tentunya akan timbul banyak ketidaksesuaian antara satu hukum dengan yang lain. Dan kebenaran menjadi semakin abstrak–tak lebih dari sekedar angin, terasa tapi tak tampak wujudnya–hingga kebenaran seolah hanya dapat ditemukan dalam hati nurani saja.

“Bila dunia beserta isinya diciptakan begitu sempurna tentu semua hal akan tampak sangat sederhana dan serba indah”.–anonim–

Adanya pembagian dari yang benar dan salah menjadikan dunia kehilangan kesederhanaan dan keindahannya, dan manusialah yang menciptakan pembagian itu sendiri. Namun, dapat kita bayangkan bila alam semesta ini begitu seragam, manusia manusia kehilangan subjektifitasnya, tak ada yang kita sebut benar dan salah, apapun yang dilakukan adalah benar dan tak ada yang menyangkalnya, tentu manusia kehilangan arti hidupnya–sejarah mengatakan semua kejadian di dunia adalah mengenai pergelutan antara yang “benar” dan yang salah”.

“Kemampuan penilaian manusia kepada masalah dan cara menyelesaikannya yang berbeda untuk tiap individu menjadikan asumsi mayoritas menjadi satu-satunya patokan dalam membagi hal yang normal dengan hal yang abnormal. Yang benar dengan yang salah. Artinya, semakin banyak manusia yang melakukan satu kegiatan maka hal tersebut dianggap normal, dan orang yang menyimpang langsung di cap sebagai manusia abnormal.”

Sesungguhnya segala keputusan ada ditangan kita mengenai apa yang harus kita ikuti, hati nuranilah dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, tergantung sikap kita bagaimana menyikapinya.

Norma yang telah tercipta di masyarakat belumlah tentu benar atau sesuai dengan hati nurani diri. Namun, untuk menentang sesuatu yang sudah mengakar di masyarakat tidaklah mudah, seperti ikan salmon yang menentang arus sungai demi melanjutkan keturunan jenisnya dan kemudian mati setelah bertelur.

“Orang-orang yang rasional menyesuaikan dirinya dengan kondisi sekeliling. Orang yang tidak rasional menyesuaikan kondisi sekeliling dengan dirinya. Semua kemajuan bergantung pada orang yang tidak rasional”.–George Bernard Shaw–

Perubahan selalu tercipta oleh orang-orang yang melawan arus. Coppernicus menentang gereja dengan geosentrisnya–bumi sebagai pusat tata surya– yang membuatnya ditentang oleh kaum gereja dan penganutnya. Hal ini membuat dia terkucil dari masyarakat hanya dikarenakan dia melawan arus dan danggap orang yang tidak normal. Ia mengemukakan teori heliosentris–matahari sebagai pusat tata surya dengan planet termasuk bumi mengelilingi matahari sebagai pusat–yang walau semasa hidupnya ia dikucilkan ia tetap memegang teguh apa yang ia anggap benar hingga akhirnya teorinya dilanjutkan oleh galileo dan dibuktikan dengan penemuan teleskop untuk pembuktian teori heliosentris.

Pihak gereja yang merasa pihaknya adalah pihak yang selalu benar tanpa sadar mengekang segala bentuk perubahan dan kemajuan. Dan sesuatu yang dianggap normal sebelumnya belum tentu dianggap normal untuk masa yang akan datang.

“jangan terlalu jauh berada di depan sampai orang menganggap anda bukan bagian dari mereka.”

–John Naisbitt–

Intinya setiap orang memiliki penilaian dan pemikiran masing-masing, dan pemikiran mayoritaslah yang sebenarnya menjadi penyeimbang segala bentuk penentangan. Pepatah jepang mengatakan “paku yang menonjol akan dipalu”, dalam membuat perubahan kita menjadi berbeda dengan sekitar kita dan pasti akan timbul kecemburuan dan pengucilan dari masyarakat. Saat membuat perubahan janganlah terlalu jauh berada di depan mereka, karena mereka tidak akan mengerti apa yang kita lakukan bila kita terlalu jauh berada di depan. Menyatulah dan berpikirlah jangan hanya dari satu sudut pandang agar kita tidak kehilangan arti kebenaran dan keselarasan hidup.

Orang secara budaya dikondisikan untuk benar. Orang tua selalu benar. Guru selalu benar. Bos selalu benar. Siapa yang benar menentukan apa yang benar. Pasangan bertengkar soal masalah-masalah yang intinya justru terlupakan akibat keduanya berebut menjadi pihak yang benar.

Partai-partai politik berpendirian harus benar. Seberapa sering partai politik menerima sikap pihak lain? Bayangkan jika semua energi yang digunakan untuk membuktikan pihak lain salah–dan kita yang benar–disalurkan untuk memikirkan apa yang terbaik bagi apa pun. Yang lebih parah lagi, keharusan menjadi benar merupakan sebuah rintangan dalam pembelajaran dan pemahaman. Keharusan menjadi benar menghambat pertumbuhan manusia, karena pertumbuhan tidak akan terjadi tanpa mengubah, mengoreksi, dan mempertanyakan diri sendiri.

Jika kita harus benar, kita menempatkan diri sendiri dalam benteng tertutup. Tapi begitu kita merasakan hebatnya tidak harus benar, kita akan merasa seperti berjalan melintasi padang terbuka, dimana cakrawala terbentang luas dan kaki kita bebas melangkah kemana saja.

Didedikasikan untuk orang-orang yang

merasa dirinya selalu benar

Bandung, … April 2008

Gian Wilda Satria





Friendship and Relationship

30 07 2008

Sunday, July 13, 2008

9:43 PM

It couldn’t work on me.

How would I be able to stay loyal to a single woman, when I loved so many?

How would I be able to stand a single woman for the rest of my life, when I’m bored so easily?

How would I be able to be a man, when im still so selfish and childish?

Is it necessary anyway?

Is it the only way?

There must be another way…

Friendship and relationship

Di suatu titik dalam kehidupan, manusia merasakan kesepian.

Manusia membutuhkan teman.

Kebutuhan untuk berinteraksi dengan manusia lain tidak dapat diingkari.

Kesepian dirasakan ketika manusia beranjak dewasa dan mulai berusaha untuk menghidupi dirinya secara mandiri.

Suatu peralihan dari masa kanak-kanak ketika ia mempunyai teman, ke suatu masa lain yang banyak dinilai dengan materi.

Pada masa kanak-kanak teman hanya ada untuk berbagi suka dan duka tanpa harus memikirkan hari esok, penghidupan dan kehidupan.

Untuk menikmati hidup dan berbagi.

Pada saat manusia beranjak dewasa, teman-teman sepermainan kemudian akan mengejar penghidupannya masing-masing dan menghilang satu demi satu.

Interaksi yang ada kemudian berkisar terutama pada pekerjaan dan membina koneksi demi penghidupan.

Kemudian manusia menciptakan pernikahan, pada pernikahan terjalin suatu hubungan pertemanan antara dua orang manusia.

Pernikahan seharusnya menjamin adanya seorang teman untuk berbagi suka dan duka.

Di titik ini saya mengerti ucapan seorang guru waktu SMP.

Beliau kurang lebih berucap bahwa pacaran didasarkan pada cinta, dan pernikahan lebih didasarkan pada kebutuhan.

Pada saat itu, saya menginterpretasikan “kebutuhan” sebagai kebutuhan biologis dan insting berkembang biak. Tetapi akhirnya saya bisa mengerti bahwa ada lebih dari itu, yang lebih fundamental, kebutuhan akan seorang teman.

Masalahnya, manusia yang beranjak dewasa ini, mulai lupa cara untuk berteman.

Terbiasa dengan cara berinteraksi dalam pekerjaannya, dan bukan kehidupannya.

Sehingga akhirnya pernikahan tidak bisa memenuhi kebutuhannya akan teman.

Kembali pada pertemanan, pada saat ini, entah bagaimana, pandangan umum yang terbentuk di masyarakat bila seorang laki-laki mengajak laki-laki lainnya pada umur 20an atau lebih untuk melakukan kegiatan misalnya shopping atau nonton bioskop akan tampak aneh. Pendek kata gay (buat temen-temen yang gay, sori, pointnya: banyak orang yang gak mau diajak).

Bersosialisasi dengan sesama laki-laki harus dilakukan untuk kegiatan yang lebih maskulin: camping, main sepak bola, panjat tebing, arung jeram.

Untuk kegiatan lainnya, seperti: nonton film baru, shopping bulanan, nyoba resto baru, nongkrong di café, jalan ke tempat hiburan tertentu, sebaiknya dilakukan sendiri, atau secara massal (tidak berdua), atau dengan perempuan.

Sekarang bagaimana kalau saya akhirnya jalan dengan seorang teman perempuan?

Orang akan memandangnya sebagai suatu bentuk pendekatan atau malah mungkin sudah berpacaran.

Kenapa harus seperti itu, saya sendiri tidak tahu.

Seakan-akan dunia tidak bisa menerima laki-laki bisa berteman dengan perempuan tanpa hubungan khusus, atau tanpa menuju hubungan khusus tersebut.

Sehingga ketika saya memulai jalan dengan seorang perempuan, saya selalu khawatir disalahartikan.

Apalagi kalau jalan dengan perempuan yang sedang mencari teman khususnya. Gawat!

Kekhawatiran ini bukan tanpa sebab. Saya seorang altruis berhati lemah.

Kadang saya tidak tega mengecewakan atau disangka mempermainkan.

Terpaksa saya menawarkan status, lalu dengan demikian malah terjerumus dalam permainan yang akan lebih mengecewakan.

Seorang laki-laki berteman dengan seorang perempuan memang menyenangkan.

Sejauh kita bisa menjaganya tetap biasa dan casual.

Walau sesuai kodratnya, perbedaan gender mungkin dapat memicu sapuan-sapuan seksual, dari tingkat kata-kata, sentuhan, pegangan tangan, pelukan, ciuman bahkan yang lebih dari sekedar sapuan-sapuan.

Tetapi ternyata hal ini tidak perlu terjadi sama sekali, walau mungkin suatu saat tingkat toleransi ini akan berkembang.

Tingkat toleransi setiap orang berbeda-beda, sesuai dengan latar belakang dan kepribadiannya.

Mungkin ada yang menganggap pengangan tangan sudah merupakan betas casual.

Tetapi mungkin ada yang nyaman dengan ciuman, bahkan mungkin ada yang nyaman mencapai intercourse.

Tetapi sekali lagi, tidak harus.

Lalu muncul pertanyaan…haruskah seorang lelaki menikah?

Dapatkah seorang deist menikah di Indonesia?

Jawabannya nanti saja.

Masih terlalu menikmati manjadi pengamat.

Hubungan antar manusia adalah hal yang menarik.

Bandung, Juni-Juli 2008

I’m in blue

Gian Wilda Satria





Keputusan

30 07 2008

Tuesday, July 29, 2008

8:57 AM

Manusia memiliki rangkaian kenangan dalam pikirannya yang akan menjadi dasar dalam pembentukan suatu pandangan atau pola pikir dalam menghadapi kejadian atau masalah yang akan datang.

Saya sering mendengar kata-kata “hidup adalah pilihan”. Pada awalnya saya tidak begitu paham akan makna kata-kata ini hingga kemudian saya dihadapkan pada suatu keadaan dimana saya harus memilih diantara dua jalan yang imbang nilai kualitasnya. Saya mengerti bahwa hidup bukanlah suatu aliran tanpa sengaja yang berjalan begitu saja–let it flow. Hidup memiliki nilai bagi orang yang menyadarinya, hidup adalah keputusan.

Saya yakin bahwa takdir setiap manusia telah ditentukan oleh-Nya, dan setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Namun, saya pun yakin setiap kali manusia mengambil keputusan merupakan satu langkah maju menuju jalan takdirnya.

Artinya, bila ada manusia yang hanya berleha-leha menjalani hidupnya berarti itulah keputusannya dan dia melangkah menuju jalan takdirnya.

Keputusan adalah hasil kajian dari pola pikir yang diimplementasikan dalam suatu simulasi real dan dikaitkan dengan segala pengaruh dan risiko didalamnya. Selain itu, dibutuhkan suatu keyakinan akan keputusan untuk mencapai konsistensi dalam pelaksanaannya.

Menurut pengalaman saya, pengambilan keputusan bukanlah suatu yang mudah pada awalnya.

Ada suatu gaya interaksi yang sangat besar untuk mulai memutuskan dan akan lebih mudah saat kita terbiasa melakukannya. Hal ini dikarenakan kita seringkali takut pada kegagalan dalam memutuskan, dan saat kita tidak berani dalam memutuskan, masalah akan semakin berlarut dan mungkin akan membesar.

Kemampuan manusia dalam menghadapi masalah ada batasannya, dan ketika seseorang tidak mampu menyelesaikannya ia cenderung akan lari dari masalah dan akhirnya gaya untuk menggerakkan pengambilan keputusan akan begitu besar lagi.

Sesungguhnya orang yang lari dari masalah berarti ia telah memutuskan untuk tidak mengambil keputusan lagi dan ia akan semakin dekat dengan takdirnya.

Selain itu, mengapa seseorang cenderung lebih sulit mengambil keputusan dikarenakan ia tak memiliki cukup pengalaman dalam kegagalan. Manusia belajar dari kegagalan, manusia bangkit dari kegagalan. Sedikit yang saya dengar manusia yang belajar dari kesuksesan–cukup berat untuk mencapai tahap itu karena seseorang yang telah belajar dari kesuksesan berarti telah belajar dari kegagalan dengan sangat cemerlang.

Sekarang masalahnya sedikit pula orang yang berani belajar dari kesalahannya padahal kesalahan yang disadari merupakan perbaikan menuju perubahan.

Intinya semua pemikiran tidak akan mendapat reaksi bila tidak dituangkan kedalam tindakan. Suatu ide dikatakan bagus apabila tertuang dengan baik, dan dikatakan buruk apabila tidak terjadi sama sekali.

Maka, belajarlah utuk berbuat, belajarlah untuk berani.

“keyakinan yang menjadi benar bagi saya adalah keyakinan yang paling memungkinkan saya menggunakan kekuatan saya, yang paling memungkinkan saya menjabarkan kebajikan saya menjadi tindakan.”

Sekarang mari mulai berpikir secara simple:

Seseorang memiliki takdir yang telah ditentukan oleh-Nya.

Karena hidup adalah pilihan, maka keputusanlah yang menjadi jalan menuju pencapaian takdir.

Setiap pengambilan keputusan merupakan satu langkah maju menuju jalan takdir.

Orang bebas memilih keputusan, tapi ingat keputusan adalah jalan menuju takdir.

Keputusan bukanlah hal yang mudah untuk dimulai, rasa takut akan kegagalan menjadi faktor utamanya.

Ketidakmampuan seseorang memutuskan suatu hal dalam menyelesaikan masalah menyebabkan gaya interaksi pengambilan keputusan yang semakin besar

Kegagalan menjadi pendorong dalam memperoleh kualitas keputusan bagi orang yang belajar.

Semakin sering mengambil keputusan, maka kualitas keputusan akan semakin baik pula.

Kesimpulannya:

Mulailah putuskan apa yang akan dilakukan, rencanakan dengan sebaik-baiknya, dan belajarlah dari kegagalan.

Ini adalah coretan seseorang yang sedang belajar dalam mengungkapkan pikiran

Harap maklum

Bandung, 29 Juli 2008

Gian Wilda Satria





Liburanku; Renunganku

30 07 2008

Wednesday, July 30, 2008

12:30 PM

Kuberjalan dalam tenangnya malam, menyusuri jalanan kota dan merasakan ketenangan dibalik kericuhan pikiran

Setelah seharian ku berusaha menenangkan diri dengan mendengarkan bahasa alam, mengirup aroma dedaunan pegunungan hingga menikmati basuhan air alam yang merendam diriku hingga ke ubun-ubun.

Berharap panasnya air belerang dapat mencairkan isi pikiranku yang sudah penat dengan segala beban dan kecemasan.

Kurasakan diriku dalam ketenangan saat ku berdiri tegak di tengah padang hijau, berdiri diantara bebatuan, membasuh wajahku dengan beningnya air pegunungan.

Sesekali ku berteriak untuk melepaskan kepenatanku, membebaskan jiwaku yang terkekang dalam kebisuan.

Tak terasa sudah begitu jauh aku melangkah dalam kesunyian, semakin ku terhanyut dalam simfoni irama angin malam yang berbisik padaku bagai sebuah nyanyian, menembus kulit membekukan hati.

Dalam malam ini ku berbagi segala peluhku dalam setiap langkah kakiku, entah kemana aku melangkah, tak tentu arah. Langkahku seakan membimbingku pada setiap renunganku.

Kususuri hingga akhirnya kuterdiam , terdiam di depan kampus di jalan tamansari, cita-citaku, kebanggaan kedua orangtuaku.

Kehampaan menyelimuti saat kuterpaku berdiri, entah mengapa air mata menetes dan semua membawa pikiranku pada sebuah penyesalan.

Aku sayang kalian, maafkan aku yang tak bisa kalian banggakan. hanya itu yang bisa aku ucap sembari menyusun kembali kekuatanku untuk tetap berdiri.

Kunyalakan sebatang rokok berharap nikotin dapat menenangkanku seperti biasanya.

Dalam keadaan seperti ini satu yang kuyakini : manusia tidak dapat mengatur skenario kehidupan. Manusia tak lebih dari sekedar bidak pemeran dalam kehidupan. Entah itu sebagai pemain utama maupun figuran, yang pasti setiap manusia memiliki perannya masing-masing. Artinya setiap manusia memiliki jalannya. Dan yang bisa manusia lakukan hanya mengikuti skenario-Nya dengan memainkan perannya sebaik mungkin.

Dengan begitu manusia dapat belajar bersyukur, memahami peran dalam kehidupan, dan terus memperbaiki diri sehingga berhenti menyalahkan orang lain.

Ya… setidaknya pemikiran ini dapat lebih menenangkanku.

Kususuri jalanan malam ini yang terus membawaku dalam renungan bisu

Dalam suasana kontemplatif aku berfikir; kapan seorang manusia dikatakan dewasa dalam pemikiran?

Apakah saat ia dapat membedakan yang benar dan yang salah–padahal setahu saya kebenaran manusia adalah relatif?

Atau saat ia dapat menyelesaikan masalah dengan bijak hingga tidak ada yang tersakiti?

Atau saat ia bisa mengajari orang lain dan berdalih tentang makna kehidupan?

Atau saat ia memiliki berbagai sudut pandang dalam memandang suatu hal?

Atau saat ia memegang teguh prinsip dalam hidupnya?

Apakah aku sudah dewasa?

Dan apakah setiap manusia dapat mencapai kedewasaan dalam berpikir?

Satu yang kupahami, aku harus hidup dalam kehidupan yang nyata, bukan kehidupan ilusi.

Semuanya tak akan menjadi seperti idealisku.

Di kehidupan nyata, pola pikir setiap orang berbeda-beda, dan itu yang harus aku pahami untuk dapat lebih mengerti orang lain dan diriku sendiri.

Jalan kehidupan yang tak bisa aku tentukan mengharuskanku menyiapkan rencana akan segala kemungkinan.

Dan sesungguhnya Allah menciptakan semua hal begitu sempurna, segala kendala berasal dari manusia dan ciptaannya. Aku harus siap atas segala konsekuensi dari perbuatanku.

Pemikiran manusia tidak akan hentinya dalam menanyakan suatu hal, mencari jawaban dan merenungkannya.

Aku bangkit dari renungan yang menaungi sepanjang langkahku.

Ku duduk di bawah lampu jalanan yang menyinari dengan senyap.

Riuh kendaraan yang melintas sesekali mengisi kekosongan.

Kubuka hand phone ku untuk sekedar bernostalgia dengan masa laluku.

Memang pesan masuk didominasi oleh seorang wanita yang dekat denganku 4 bulan terakhir, seorang wanita hebat yang pernah ku kenal.

Dalam pemikiran kontemplatif, hubungan dapat memberikan banyak pelajaran akan rasa kehidupan.

Dan suatu hubungan terjalin didasarkan pada kebutuhan manusia akan seorang teman.

Aku sudah beberapa kali menjalin hubungan pertemanan khusus atau yang lebih familiar disebut pacaran. Dan yang aku sadari sekarang bahwa kualitas suatu hubungan tak dapat dinilai dari kuantitas atau jenjang lamanya menjalin hubungan.

Kualitas dinilai dari apa yang telah dipetik dari apa yang kita tanam. Maksud saya disini, dalam menjalin suatu hubungan janganlah terpatok pada apa yang dapat pasangan kita berikan dengan menuntut segala kebutuhan kepada pasangan dan membuatnya menjadi seperti idealisme kita, tapi berpikirlah apa yang bisa saya berikan untuk pasangan dan untuk hubungan.

Saya teringat pada suatu quote dari John C. Maxwell “berikanlah apa yang bisa kau berikan kepada seseorang dan bersyukurlah, maka orang tersebut akan menjadi apa yang kamu harapkan.”

Dan saya percaya bahwa benih yang baik dengan pemeliharaan yang konsisten akan menghasilkan buah yang baik pula.

Kuberanjak dari dudukku, malam semakin larut.

Udara malam kian menusuk badanku yang berbalut kaos tipis dan jaket seadanya.

Pikiranku masih mengisi riuh malam

Dalam kesunyian ku berbisik “terima kasih Tuhan atas apa yang telah Engkau berikan, sungguh besar karuniamu yang tak kusadari. Semoga aku menjadi lebih baik lagi esok hari, dapat berbagi kebahagiaan dengan orang sekelilingku,memanfaatkan sisa hidup untuk menggapai impianku, dan berikanlah petunjukmu agar aku dapat lebih berlapang dada. Amin “

Tak terasa ku mengitari jalan dan kembali ke tempat semula aku memarkirkan mobilku.

Kunikmati secangkir moccachino panas di CK, harga yang kubayar tak dapat menandingi kenikmatan aroma kopi dan ketenangan pikiran saat menyeruputnya.

Ku buka laptopku dan menyalakan sebatang rokok.

Kuberharap tulisan ini dapat menampung segala keluh kesahku sekali lagi.

Dan aku yakin esok akan lebih cerah.

Bandung, 29 Juli 2008

Gian Wilda Satria

02.00 AM