Wednesday, July 30, 2008
12:30 PM
Kuberjalan dalam tenangnya malam, menyusuri jalanan kota dan merasakan ketenangan dibalik kericuhan pikiran
Setelah seharian ku berusaha menenangkan diri dengan mendengarkan bahasa alam, mengirup aroma dedaunan pegunungan hingga menikmati basuhan air alam yang merendam diriku hingga ke ubun-ubun.
Berharap panasnya air belerang dapat mencairkan isi pikiranku yang sudah penat dengan segala beban dan kecemasan.
Kurasakan diriku dalam ketenangan saat ku berdiri tegak di tengah padang hijau, berdiri diantara bebatuan, membasuh wajahku dengan beningnya air pegunungan.
Sesekali ku berteriak untuk melepaskan kepenatanku, membebaskan jiwaku yang terkekang dalam kebisuan.
Tak terasa sudah begitu jauh aku melangkah dalam kesunyian, semakin ku terhanyut dalam simfoni irama angin malam yang berbisik padaku bagai sebuah nyanyian, menembus kulit membekukan hati.
Dalam malam ini ku berbagi segala peluhku dalam setiap langkah kakiku, entah kemana aku melangkah, tak tentu arah. Langkahku seakan membimbingku pada setiap renunganku.
Kususuri hingga akhirnya kuterdiam , terdiam di depan kampus di jalan tamansari, cita-citaku, kebanggaan kedua orangtuaku.
Kehampaan menyelimuti saat kuterpaku berdiri, entah mengapa air mata menetes dan semua membawa pikiranku pada sebuah penyesalan.
Aku sayang kalian, maafkan aku yang tak bisa kalian banggakan. hanya itu yang bisa aku ucap sembari menyusun kembali kekuatanku untuk tetap berdiri.
Kunyalakan sebatang rokok berharap nikotin dapat menenangkanku seperti biasanya.
Dalam keadaan seperti ini satu yang kuyakini : manusia tidak dapat mengatur skenario kehidupan. Manusia tak lebih dari sekedar bidak pemeran dalam kehidupan. Entah itu sebagai pemain utama maupun figuran, yang pasti setiap manusia memiliki perannya masing-masing. Artinya setiap manusia memiliki jalannya. Dan yang bisa manusia lakukan hanya mengikuti skenario-Nya dengan memainkan perannya sebaik mungkin.
Dengan begitu manusia dapat belajar bersyukur, memahami peran dalam kehidupan, dan terus memperbaiki diri sehingga berhenti menyalahkan orang lain.
Ya… setidaknya pemikiran ini dapat lebih menenangkanku.
Kususuri jalanan malam ini yang terus membawaku dalam renungan bisu
Dalam suasana kontemplatif aku berfikir; kapan seorang manusia dikatakan dewasa dalam pemikiran?
Apakah saat ia dapat membedakan yang benar dan yang salah–padahal setahu saya kebenaran manusia adalah relatif?
Atau saat ia dapat menyelesaikan masalah dengan bijak hingga tidak ada yang tersakiti?
Atau saat ia bisa mengajari orang lain dan berdalih tentang makna kehidupan?
Atau saat ia memiliki berbagai sudut pandang dalam memandang suatu hal?
Atau saat ia memegang teguh prinsip dalam hidupnya?
Apakah aku sudah dewasa?
Dan apakah setiap manusia dapat mencapai kedewasaan dalam berpikir?
Satu yang kupahami, aku harus hidup dalam kehidupan yang nyata, bukan kehidupan ilusi.
Semuanya tak akan menjadi seperti idealisku.
Di kehidupan nyata, pola pikir setiap orang berbeda-beda, dan itu yang harus aku pahami untuk dapat lebih mengerti orang lain dan diriku sendiri.
Jalan kehidupan yang tak bisa aku tentukan mengharuskanku menyiapkan rencana akan segala kemungkinan.
Dan sesungguhnya Allah menciptakan semua hal begitu sempurna, segala kendala berasal dari manusia dan ciptaannya. Aku harus siap atas segala konsekuensi dari perbuatanku.
Pemikiran manusia tidak akan hentinya dalam menanyakan suatu hal, mencari jawaban dan merenungkannya.
Aku bangkit dari renungan yang menaungi sepanjang langkahku.
Ku duduk di bawah lampu jalanan yang menyinari dengan senyap.
Riuh kendaraan yang melintas sesekali mengisi kekosongan.
Kubuka hand phone ku untuk sekedar bernostalgia dengan masa laluku.
Memang pesan masuk didominasi oleh seorang wanita yang dekat denganku 4 bulan terakhir, seorang wanita hebat yang pernah ku kenal.
Dalam pemikiran kontemplatif, hubungan dapat memberikan banyak pelajaran akan rasa kehidupan.
Dan suatu hubungan terjalin didasarkan pada kebutuhan manusia akan seorang teman.
Aku sudah beberapa kali menjalin hubungan pertemanan khusus atau yang lebih familiar disebut pacaran. Dan yang aku sadari sekarang bahwa kualitas suatu hubungan tak dapat dinilai dari kuantitas atau jenjang lamanya menjalin hubungan.
Kualitas dinilai dari apa yang telah dipetik dari apa yang kita tanam. Maksud saya disini, dalam menjalin suatu hubungan janganlah terpatok pada apa yang dapat pasangan kita berikan dengan menuntut segala kebutuhan kepada pasangan dan membuatnya menjadi seperti idealisme kita, tapi berpikirlah apa yang bisa saya berikan untuk pasangan dan untuk hubungan.
Saya teringat pada suatu quote dari John C. Maxwell “berikanlah apa yang bisa kau berikan kepada seseorang dan bersyukurlah, maka orang tersebut akan menjadi apa yang kamu harapkan.”
Dan saya percaya bahwa benih yang baik dengan pemeliharaan yang konsisten akan menghasilkan buah yang baik pula.
Kuberanjak dari dudukku, malam semakin larut.
Udara malam kian menusuk badanku yang berbalut kaos tipis dan jaket seadanya.
Pikiranku masih mengisi riuh malam
Dalam kesunyian ku berbisik “terima kasih Tuhan atas apa yang telah Engkau berikan, sungguh besar karuniamu yang tak kusadari. Semoga aku menjadi lebih baik lagi esok hari, dapat berbagi kebahagiaan dengan orang sekelilingku,memanfaatkan sisa hidup untuk menggapai impianku, dan berikanlah petunjukmu agar aku dapat lebih berlapang dada. Amin “
Tak terasa ku mengitari jalan dan kembali ke tempat semula aku memarkirkan mobilku.
Kunikmati secangkir moccachino panas di CK, harga yang kubayar tak dapat menandingi kenikmatan aroma kopi dan ketenangan pikiran saat menyeruputnya.
Ku buka laptopku dan menyalakan sebatang rokok.
Kuberharap tulisan ini dapat menampung segala keluh kesahku sekali lagi.
Dan aku yakin esok akan lebih cerah.
Bandung, 29 Juli 2008
Gian Wilda Satria
02.00 AM
Komentar Terakhir