Aku bingung pada “sesuatu” yang selalu mengusikku, sesuatu yang mengganggu namun selalu ku rindukan kehadirannya.
Seperti gundik yang telah dibeli oleh tuannya, perasaanku telah terkekang dalam selimut kekacauan. Inilah labilku.
Ciut nyaliku bila berurusan dengan sang “sesuatu”. Bukan karena jasadnya namun pengaruhnya yang memperlakukanku layaknya marionet.
Terikat pada tali kasur hingga tak kuasa ambil kontrol.
Terkadang aku menjadi seorang tikus putih di dalam gazzle, tersesat. Satu-satunya acuan adalah insting. Sungguh subjektif
Tak ingin aku demikian. Aku lelaki bukan marionet bukan tikus apalagi gundik, aku bebas.
Ingin aku menjadi seorang Aceh dengan keberaniannya.
Atau seorang eropa dengan logikanya.
Walau ku tahu keberanian dan logika tak cukup mengadikuasai sesuatu itu.
Sesuatu yang membuat aku lebih peduli hingga hal terkecil yang bahkan tak dapat aku lihat.
sesuatu yang menghilangkan batas antara kebijaksanaan dengan keangkuhan.
sesuatu yang membuat aku menilai hanya dari satu sudut pandang.
sesuatu yang membuat aku muak namun selalu menanti kehadirannya kembali.
sesuatu yang mereka bilang dapat menenangkan hati sang penderita namun kurasa menyayat logika.
sesuatu yang membuat imajinasiku tersenyum karena keelokannya namun terkekang tak terbebaskan.
Aku teringat barangkali sesuatu ini yang mereka namakan CINTA.
Bila cinta yang mereka maksud terhadap “sesuatu” yang aku rasakan, tak begini keadaannya.
Kutahu dari mereka cinta itu hanya indah.
dengan cinta…
Senyum akan terpampang pada bibir semua orang.
Tatapan hangat dan mimik simpati menghias damai diri.
Setiap orang akan saling memberi tanpa mengharap diberi.
Jalananan akan padat oleh orang yang saling bersalaman dan mengobrol tentang cinta.
Tak akan ada ucapan maaf, karena memang tak ada cela atasnya.
Tak perlu lagi polisi karena hukum telah tergantikan oleh cinta.
Tak kan ada pemerintah, karena cinta saling mengasihi dan sederajat.
Amerika serikat tak akan pernah menyerang irak hanya karena urusan minyak, bahkan irak akan memberi tanpa dipinta.
Tak kan ada agama karena tak ada lagi yang diluruskan.
Tak akan ada yang namanya jihad, karena dunia terlampau damai untuk dibela.
Tak kan ada kebudayaan di muka bumi karena segalanya telah tercukupi, dengan cinta.
Kalau cinta itu indah…
Kenapa ia tak berdiri seutuhnya?
Mengapa ada seorang bapak memerkosa anaknya? Apakah cinta ia samakan dengan bercinta?
mengapa seorang yang mengaku ahli agama mendoktrin pengikutnya mem-bom diri atas nama jihad? Apakah kata cinta hanya sebatas pemanis ceramah?
Kalau cinta itu indah…
Mengapa aku masih bingung pada cinta? Atau sesuatu yang aku rasakan bukanlah cinta?
Ya ini bukan cinta…
karena ini terlalu menyiksaku. Menyiksaku dengan keindahannya.
Gian Wilda Satria
Soreang, 19 Maret 2008
kita liat, apa cinta masi mau kompromi ttg jarak.
Don’t worry bout the thing. Cause every little thing is gonna be allright. Hhh sampai kapan lyric ini akan menenangkanku?