Diproteksi: Wanita di Meja Makan

1 05 2008

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:






Diproteksi: Untukmu Wanitaku

1 05 2008

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:






Sesuatu, Cintakah Itu?

1 05 2008

Aku bingung pada “sesuatu” yang selalu mengusikku, sesuatu yang mengganggu namun selalu ku rindukan kehadirannya.

Seperti gundik yang telah dibeli oleh tuannya, perasaanku telah terkekang dalam selimut kekacauan. Inilah labilku.

Ciut nyaliku bila berurusan dengan sang “sesuatu”. Bukan karena jasadnya namun pengaruhnya yang memperlakukanku layaknya marionet.

Terikat pada tali kasur hingga tak kuasa ambil kontrol.

Terkadang aku menjadi seorang tikus putih di dalam gazzle, tersesat. Satu-satunya acuan adalah insting. Sungguh subjektif

Tak ingin aku demikian. Aku lelaki bukan marionet bukan tikus apalagi gundik, aku bebas.

Ingin aku menjadi seorang Aceh dengan keberaniannya.

Atau seorang eropa dengan logikanya.

Walau ku tahu keberanian dan logika tak cukup mengadikuasai sesuatu itu.

Sesuatu yang membuat aku lebih peduli hingga hal terkecil yang bahkan tak dapat aku lihat.

sesuatu yang menghilangkan batas antara kebijaksanaan dengan keangkuhan.

sesuatu yang membuat aku menilai hanya dari satu sudut pandang.

sesuatu yang membuat aku muak namun selalu menanti kehadirannya kembali.

sesuatu yang mereka bilang dapat menenangkan hati sang penderita namun kurasa menyayat logika.

sesuatu yang membuat imajinasiku tersenyum karena keelokannya namun terkekang tak terbebaskan.

Aku teringat barangkali sesuatu ini yang mereka namakan CINTA.

Bila cinta yang mereka maksud terhadap “sesuatu” yang aku rasakan, tak begini keadaannya.

Kutahu dari mereka cinta itu hanya indah.

dengan cinta…

Senyum akan terpampang pada bibir semua orang.

Tatapan hangat dan mimik simpati menghias damai diri.

Setiap orang akan saling memberi tanpa mengharap diberi.

Jalananan akan padat oleh orang yang saling bersalaman dan mengobrol tentang cinta.

Tak akan ada ucapan maaf, karena memang tak ada cela atasnya.

Tak perlu lagi polisi karena hukum telah tergantikan oleh cinta.

Tak kan ada pemerintah, karena cinta saling mengasihi dan sederajat.

Amerika serikat tak akan pernah menyerang irak hanya karena urusan minyak, bahkan irak akan memberi tanpa dipinta.

Tak kan ada agama karena tak ada lagi yang diluruskan.

Tak akan ada yang namanya jihad, karena dunia terlampau damai untuk dibela.

Tak kan ada kebudayaan di muka bumi karena segalanya telah tercukupi, dengan cinta.

Kalau cinta itu indah…

Kenapa ia tak berdiri seutuhnya?

Mengapa ada seorang bapak memerkosa anaknya? Apakah cinta ia samakan dengan bercinta?

mengapa seorang yang mengaku ahli agama mendoktrin pengikutnya mem-bom diri atas nama jihad? Apakah kata cinta hanya sebatas pemanis ceramah?

Kalau cinta itu indah…

Mengapa aku masih bingung pada cinta? Atau sesuatu yang aku rasakan bukanlah cinta?

Ya ini bukan cinta…

karena ini terlalu menyiksaku. Menyiksaku dengan keindahannya.

Gian Wilda Satria

Soreang, 19 Maret 2008





Diproteksi: Senyum Gadisku

1 05 2008

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:






Mengulangi Hidup

1 05 2008

“seandainya saya harus mengulang lagi kehidupan saya dari awal, saya akan lebih berani membuat kesalahan. Saya akan lebih rileks. Saya akan lebih fleksibel. Saya akan lebih konyol daripada yang selama ini. Saya akan lebih tidak serius menanggapi segalanya. Saya akan memanfaatkan lebih banyak kesempatan, saya akan lebih banyak bepergian, saya akan mendaki lebih banyak gunung dan berenang di lebih banyak sungai. Saya akan makan es krim lebih banyak dan makan kacang lebih sedikit. Mungkin saya akan lebih banyak mengalami masalah yang aktual dan lebih sedikit mengalami masalah yang imajiner. Sebab, selama ini saya ini tipe orang yang menggunakan akal budi waras, jam demi jam, hari demi hari.

Oh, sempat juga sih saya mengalami momen-momen menakjubkan. Seandainya saya harus mengulanginya lagi dari awal, saya akan lebih banyak mengalami momen menakjubkan itu. Bahkan, saya akan mencoba tidak mengalami yang lainnya–hanya momen demi momen, daripada hidup bertahun-tahun ke depan setiap harinya. Selama ini saya adalah tipe orang yang tidak pernah pergi kemana-mana tanpa membawa termometer, termos air panas, jas hujan, dan jaket parasit. Seandainya saya bisa mengulangnya lagi, saya akan membawa bekal yang lebih ringan saat bepergian.

Seandainya saya harus mengulangi kehidupan saya dari awal, saya akan bertelanjang kaki lebih awal di musim panen dan terus bertelanjang kaki lebih lama saat bunga-bunga masih bermekaran. Saya akan lebih sering pergi ke tempat hiburan, dan saya akan lebih sering naik komedi putar, saya akan lebih banyak memetik bunga edelweiss.”





Kalap

1 05 2008

Aku sudah kehabisan akal

Tidak bisa kuterobos dindingnya

Kepalaku seperti mau pecah

Aku ada di persimpangan jalan

Pukulanku meleset

Aku melayang-layang diudara

Aku mulai tenggelam

Aku bahagia seperti burung berkicau

Aku menemui jalan buntu

Aku memikul dunia di pundakku

Kehidupan ibarat semangkuk buah cherry

Kehidupan seperti neraka